Sayap – Sayap yang Hilang
By : a.de.er.el dan Barl
5.....4.....3.....2.....1.....
Dengan
mata terpejam aku menghitung mundur waktu dan pada hitungan terakhir aku
membuka kedua kelopak mataku perlahan. Dihadapanku terhampar daratan luas
berwarna putih yang tak kuketahui ujungnya. Langkah demi langkah kakiku
menyusuri daratan itu, namun tetap saja aku tak dapat melihat warna lain selain
putih. Otakku berpikir, tempat apakah ini sebenarnya? Apa tak ada seorang pun
yang tinggal disini? Tak adakah jalan keluar dari tempat ini?. Saat berpikir
itu aku mendengar samar sebuah suara perempuan tengah menyanyikan sebuah
lagu....
Semua tentangmu..
Selalu membekas di
hati ini
Cerita cinta kita
berdua
Akan selalu....
Semua kenangan tak
mungkin bisa
(ku lupakan ku
hilangkan)
Takkan mungkin ku
biarkan cinta kita berakhir
Ku tak rela, ku
tak ingin kau lepaskan semua
Ikatan tali cinta
yang tlah kita buat selama ini
Mataku
langsung mencari-cari dari mana suara perempuan itu berasal tapi aku tak
berhasil menemukan tanda-tanda adanya orang di tempat ini.
“aahhhh.....tempat
apa ini? Mengapa ada suara tanpa wujud? Apa mungkin aku sedang bermimpi?
Tuhan...tolonglah hamba-Mu keluar dari tempat ini, hamba mohon,” pintaku.
***
Di
sebuah kamar ICU di salah satu rumah sakit terkenal di Surabaya, terbaring
seorang anak laki-laki dengan berbagai alat medis ditubuhnya. Disampingnya
tampak seorang gadis memegang tangan kanan anak laki-laki itu menyanyikan lagu
kenangan antara dia dan anak laki-laki yang sedang koma itu. Lagu yang isinya
sama dengan janji mereka beberapa tahun yang lalu....
Aku disini selalu
menanti
Ku takkan letih
menunggumu
Aku disini selalu
menanti
Ku takkan letih
menunggumu
“bangun
Res, gue mohon buka mata lo...ini gue Silvi, pacar lo...ayo dong bangun, lo
udah 15 hari tidur gak bangun-bangun” kata cewek yang bernama Silvi dengan
diiringi isak tangis. Sebenarnya Silvi itu bukanlah pacar Vares, lebih tepatnya
Silvi itu mantan pacarnya Vares. Mereka berdua putus saat Silvi memilih untuk
kuliah di Jakarta 3 tahun yang lalu.
“udah
Vi jangan nangis gini dong, lo itu harusnya ngasih support buat Vares biar dia
bangun dari komanya,” ucap Julio yang tak lain adalah sahabat akrab Vares
sambil mengelus lembut pundak Silvi.
“gue
takut kehilangan Vares, Julio...gue masih sayang banget sama dia, gue gak mau
dia ninggalin gue, Julio”
“ya
karena itu, lo mestinya doain dia biar cepet sadar dan kumpul bareng kita lagi”
Selama
Julio dan Silvi bicara, mereka berdua tak menyadari bahwa jemari tangan kiri
Vares bergerak pelan sangat pelan yang membuat orang sekitarnya tak menyadari
hal itu. Barulah ketika jemari tangan kanannya bergerak dan kelopak matanya
terbuka semua orang yang berada di ruangan itu langsung mengelilingi ranjang
tempat Vares terbaring.
“panggil
dokter!! Cepet panggil dokter!!” teriak mama Vares. Julio yang berada didekat
tombol pemanggil dokter segera memencet tombol itu. Tak berselang lama seorang
dokter datang disertai dua orang perawat langsung memeriksa kondisi Vares.
“gimana
dok? Vares gak papa kan?,” ucap mama Vares ketika dokter selesai memeriksa
anaknya
“alhamdulillah...Vares
sudah melewati masa kritisnya tetapi masih harus dalam perawatan medis” terang
dokter
Mama
Vares beranjak menuju samping ranjang anaknya mengelus rambutnya dengan penuh
kasih
“syukurlah
sayang kamu udah sadar, mama khawatir banget sama kamu”
“ehhm....ibu
siapa ya? Dan mereka semua juga siapa? Kok ibu kenal sama aku?” kata Vares yang
membuat mamanya langsung shock
“ka..kamu
gak ngenalin mama? Ini mama kamu Vares, mama yang ngelahirin dan ngebesarin
kamu sayang, trus ini papa kamu, itu Julio sahabat kamu dan yang cewek itu
Silvi pacar kamu” mama Vares menerangkan pada anaknya sambil menunjuk orang
yang disebutkan namanya.
“Vares
itu siapa?”
“Vares
itu nama kamu sayang, Vares Erlangga”
“jadi
nama aku Vares ya, maaf aku gak inget sama sekali tentang diriku sendiri”
“gak
papa kok sayang, yang penting kamu sadar itu aja udah buat mama seneng banget”
“ehm,
Vares istirahat aja dulu ya, jangan banyak ngobrol dulu karena kamu belum
sepenuhnya sembuh” suruh dokter
“iya
dok!!”
“mari
Pak Bu ke ruangan saya, akan saya jelaskan tentang kondisi Vares lebih rincinya”
ajak dokter itu sambil melangkah keluar kamar
***
Ruangan
dokter
Dokter
yang diketahui bernama Ifan itu tengah membolak-balik catatan kesehatan dan
hasil check up yang dilakukan terhadap Vares selama 15 hari terakhir ini.
Dihadapannya orangtua Vares duduk menunggu penjelasan dokter tentang kondisi
anak mereka. Dia sendiri sudah menduga bahwa Vares akan amnesia karena luka
yang didapatinya.
“dokter,
gimana kondisi anak kami sebenarnya?” tanya papa Vares memecahkan keheningan
yang tercipta semenjak mereka memasuki ruang dokter Ifan.
“hmm...menurut
hasil pemeriksaan dan apa yang terjadi tadi, saya mengambil kesimpulan bahwa
Vares memang mengalami amnesia akibat luka di kepalanya” jawab dokter Ifan
“berapa
kira-kira lama amnesianya? Adakah cara untuk mengembalikan ingatan Vares?” kali
ini mama Vares yang bertanya
“saya
tidak bisa memperkirakan berapa lama Vares akan amnesia, karena itu tergantung
dengan niat Vares sendiri untuk memulihkan ingatannya, kita semua hanya bisa
berharap saja dan juga menurut saya Vares bisa sadar adalah keajaiban karena
jarang saya temui ada orang yang selamat setelah mengalami kecelakaan semacam
itu”
“kalau
begitu kami berdua permisi dok”
“ya
silahkan”
***
Vares
telah dipindahkan dari ICU ke kamar rawat VIP dan beberapa alat medis yang
menempel ditubuhnya satu per satu dilepas menyisakan infus dan alat pernafasan
saja. Di dalam kamarnya yang baru itu Vares ditemani oleh Julio dan Silvi yang
sedari tadi sibuk mengobrol tidak jelas disertai humor-humor garing. Tiba-tiba
ponsel Silvi berbunyi...
“halo?
Iya mah, iya Silvi juga udah mau pulang kok, dah mama” begitulah isi percakapan
telepon Silvi
“eh
gue pulang dulu ya, udah dicariin mama, cepet sembuh ya Vares sayang” pamit
Silvi kemudian
“ah
ya, makasih, hati-hati”
Setelah
Silvi pergi Julio dan Vares ngobrol akrab banget kayak sahabat yang udah gak
ketemu puluhan tahun seolah-olah Vares itu gak lagi amnesia, Julio cerita
tentang masa-masa mereka dulu dari yang baik-baik sampai yang jelek hingga
akhirnya Vares membuka mulut bertanya tentang hal yang sangat ingin
diketahuinya.
“eh
Julio, gue boleh tanya gak sama elo?” tanya Vares
“tanya
apaan emang?”
“kok
gue bisa ada di rumah sakit sih? Emangnya apa yang terjadi sama gue sebelumnya?”
“oh
itu, gini ceritanya.....
“beberapa
hari sebelumnya itu elo putus sama cewek yang lo sayang, namanya Nadine dan
semenjak itu elo jadi pendiem, cuek, dingin sampek akhirnya waktu pulang kampus
di hari yang naas itu, elo kecelakaan...keserempet truk waktu lo mau nyalip
truk itu trus lo nginep disini deh” Julio menceritakan hal inti yang terjadi
pada sahabatnya itu dengan nada bercanda trus dia nambahin ceritanya “yang gue
sayangin dari peristiwa itu sih motor ninja baru lo jadi ringsek, kan rugi beli
mahal-mahal gitu trus abis dilindes truk, sayang abis kan?” Julio mengakhiri
ceritanya dengan tampang tanpa dosa.
“ahh...rese
lo, harusnya elo itu lebih perhatian sama gue bukan motor gue, kan gue yang
jatoh trus sakit” omel Vares
“ngapain
juga gue perhatian sama elo, iddiiiihh...lo kira gue maho? Jatoh itu juga kan
salah elo, udah tau badan lo kecil sok-sokan naik ninja” cibir Julio
“lo
kok ngeledekin gue mulu sih? Lo sahabat gue bener gak sih? Bukannya muji-muji
gue gitu”
“ah
tu mah maunya elo bukan gue”
“ya
emang, trus satu lagi deh Julio, ini tentang Silvi”
“kenapa
emang si Silvi?”
“gue
minta lo jawab jujur karena cuma elo yang gue percaya sekarang, sebenernya
hubungan gue sama dia itu gimana sih? Dia bilang ke gue kalo gue itu pacarnya,
mama juga bilang gitu dan siapa lagi tuh Nadine?” Vares bingung karena entah
kenapa di dalam hatinya yakin kalo dia sudah tak memiliki hubungan apapun
dengan Silvi tapi kenapa mama dan Silvi bilang mereka pacaran.
“dengerin
gue baik-baik, elo sama Silvi itu pacaran tapi dulu sekarang udah enggak karena
dia mutusin elo sebelum dia kuliah ke Jakarta, buat masalah Nadine sih setau
gue sebagai sahabat elo ya, dia adalah pacar pertama elo setelah elo putus dari
Silvi dan jadi jomblo selama 2 tahun tapi sebelum kecelakaan itu dia udah jadi
mantan elo”
“pantes
gue juga ngerasanya gitu tentang Silvi dan waktu elo cerita tentang Nadine dada
gue rasanya sakit banget”
“masih
bisa ngerasa juga lo? Alhamdulillah deh, berarti organ tubuh elo masih
berfungsi normal, Hehehe...”
“huu...rese
lo...”
Lalu
terjadilah aksi ledek meledek satu sama lain hingga kedua orangtua Vares
memasuki kamar
“ada
apa ini? Kok kayaknya seru banget?” Kata mama Vares saat mengetahui keakraban
Vares dan sahabatnya
“hehehe
gak papa kok Tante, berhubung Tante sama Om udah disini saya pamit dulu udah
sore soalnya” Julio berpamitan pulang
“makasih
ya Julio udah nemenin Vares, hati-hati di jalan” kata Mama Vares dan Papanya
Cuma tersenyum
“oke
Tante”
***
Keesokan
paginya, Vares terbangun karena mendengar perdebatan yang sengit. Ketika
matanya terbuka dihadapannya berdiri mama papanya dan pasangan lain yang jauh
lebih tua. Dalam diam dia mendengarkan semua perdebatan orang-orang dewasa
didepannya.
“Regi,
mama sama papa mau bawa Vares ke Bandung, disana pengobatannya jauh lebih
baik!”, kata wanita tua itu yang bisa disimpulkan oleh Vares kalo itu adalah
Neneknya dan disampingnya itu pasti Kakeknya.
“ya
gak bisa gitu dong ma, Vares itu anak aku jadi dia itu tanggung jawab aku
sebagai papanya”
“tanggung
jawab? Kamu tau nggak kalo apa yang terjadi sama Vares itu juga karena
kecerobohan kamu, mama sama papa gak bisa percayain Vares cucu laki-laki
satu-satunya di keluarga kita ke kalian lagi”
“itu
musibah, gak ada orang yang bisa menghindari musibah, dan juga mama sama papa
gak punya hak atas Vares jadi mama sama papa gak boleh bawa Vares”
“mama
sama papa gak mau tau, pokoknya Vares ikut kita” kata Mamanya papa Regi
“lagian
papa juga udah siapin segala keperluan Vares buat ke Bandung dan hari ini juga
Vares bakal dibawa ke Bandung trus kalian urus aja Meydia anak kesayangan
kalian berdua”
“ma...pa...udah
dong debatnya” lerai Vares yang sedari tadi diam
“loh
kamu udah bangun?” tanya mamanya yang hanya dibalas anggukan kepala
“Vares
ini oma sayang, dan ini yang disamping oma adalah opa kamu” wanita tua itu
memperkenalkan dirinya ke Vares karena sudah mendapat informasi dari dokter
kalo Vares kena amnesia
“iya
oma, makasih udah jengukin Vares, maa..Meydia itu siapa?”
“Meydia
itu kakak perempuan kamu sayang”
“kok
dia gak jengukin aku ma?”
“kakak
lagi ada ujian semester di kampusnya”
“udah
Vares jangan tanya tentang Kak Meydia lagi, sekarang kita siap-siap karena oma
sama opa mau ngasih pengobatan terbaik buat kamu di Bandung, mau ya sayang?”
bujuk oma
“emang
disini gak baik?”
“baik
sih Cuma oma mau yang paling terbaik buat kamu, mau ya?”
“ya
udah deh”
“Vares
jangan tinggalin mama” air mata mengaliri pipi putih sang mama
“ma,
Vares itu mau berobat, bukan ninggalin mama, Vares pengen sembuh, boleh ya ma?”
“iya
deh kalo gitu, jaga diri ya sayang”
“iya
mama”
***
Sudah
seminggu lebih Vares tinggal di kota kembang ini melakukan pengobatan seperti
yang disarankan oma dan opanya. Hari ini dia mau ikut opanya ke kampus tempat
opa mengajar mahasiswanya dan kalian tau dimana? ITB...ya ITB..Institut
Teknologi Bandung, opa Vares termasuk dalam jajaran dosen senior dalam jurusan
Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika (STEI) di kampus terbaik Indonesia ini.
Saat di perjalanan, opanya menghentikan mobil yang dikendarainya hendak menyapa
salah seorang mahasiswanya yang sedang berjalan di trotoar.
“Rengga,
ayo berangkat bareng Bapak aja, ini udah siang ntar kamu telat” ajak Opa Widhi
“wahh...gak
ngerepotin Pak?”
“gak
papa, lagian kan kita satu kampus sekalian juga Bapak mau ngenalin kamu sama
cucu Bapak, siapa tau kalian bisa berteman” Rengga menerima tawaran Pak Widhi
setelah berpikir sesaat.
“makasih
Pak” kata Rengga saat turun dari mobil
“ya
sama-sama, Res...kamu mau ikut opa atau lihat-lihat kampus?” tanya Pak Widhi
pada cucunya
“aku
lihat-lihat kampus aja dulu opa, ntar kalo udah bosen aku telepon opa deh”
“mau
gue temenin gak Res?” tawar Rengga yang sedikit banyak mulai akrab sama Vares
karena obrolan kecil di mobil tadi
“emangnya
elo gak ada kelas gitu?”
“ada
sih, tapi mending kan gue nemenin elo biar gak nyasar”
“tenang
aja bro, gue gak bakalan nyasar karena gue bawa smartphone kok” kata Vares
sambil memamerkan smartphone keluaran terbaru miliknya
“ya
udah terserah elo juga deh tapi kalo elo butuh gue tinggal telepon gue aja,
oke? Udah lo simpen kan nomer gue?”
“iya
iya, kalo gue butuh gue bakal telepon elo kok, udah sana buruan masuk!! Opa
juga masuk sana, Vares mau keliling kampus dulu, daahh...”
Vares
melebur menjadi satu dengan para mahasiswa yang berlalu lalang di kampus
mengamati setiap detail kampus yang kata Omanya adalah kampus yang pengen dia
masukkin tapi gak boleh sama mama dan papanya. Waktu itu katanya dia pengen
banget masuk Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara biar bisa bikin pesawat buat
dipakai keliling dunia bareng orang yang dia sayangi. Dan sekarang di depannya
berdiri kokoh bangunan fakultas yang diinginkannya dulu sebelum hilang ingatan.
Dia terpesona sama fakultas itu, mematung gak percaya kalo dia benar-benar bisa
berdiri tepat di depan fakultas itu, dia pun juga sudah bertekad bahwa apapun
yang terjadi dia akan masuk ke fakultas itu, HARUSS...!!
***
“Oma....Oma....”
panggil Vares begitu sampai di rumah
“apa
sayang?” respon Omanya
“Vares
mau daftar tes ke FTMD, boleh kan?”
“ya
boleh dong sayang siapa juga yang mau melarang kamu”
“yess...makasih
Oma, aku sayang banget sama Oma”
“Cuma
sama Oma doang sayangnya?” Opa Widhi iri
“hehehe...sama
Opa juga dong”
***
Pagi
ini Vares sudah nampak rapi duduk di teras rumah menunggu Opanya turun. Dia
akan berperang hari ini, lawannya adalah soal-soal ujian masuk FTMD.
“Opa...ayo
dong cepet, lama banget sih?” tidak sabar menunggu Opanya, Vares berjalan bolak
balik kayak setrikaan di teras rumah
“iya
iya ini udah siap” balas Opanya sambil keluar rumah ditemani istrinya
“Vares..jangan
lupa berdoa dulu sebelum ngerjain soalnya” Omanya mengingatkan
“siap
Oma, laksanakan!!” jawab Vares dengan bergaya hormat kayak waktu upacara, lalu
bersalaman mencium punggung tangan Omanya
“doain
aku ya Oma”
“pasti
sayang...!!”
***
Nada
dering ponsel berbunyi nyaring membangunkan si pemiliknya, Vares yang tertidur
pulas
“halo...”
“woy
men...beneran kan ini nomer elo? Gue kangen sama elo tau gak? Elo ke Bandung
kok gak bilang-bilang gue sih?” cerocos orang di seberang telepon
“ini
siapa ya?”
“ya
elah masa iya elo lupa sama gue? Sama suara merdu gue? Ini gue Julio, sohib lo
mamen”
“ngapain
elo telepon gue jam segini gak punya jam ya di rumah elo? Ini tuh masih jam
02.00 dini hari waktu paling enak buat tidur”
“hehehe...sorry
men, abis kalo telepon jam segini kan murah”
“huu..suka
banget lo sama yang murah-murah”
“biarin
wleekk...gue denger elo keterima di FTMD bener gak?”
“iya”
jawab Vares teringat kejadian kemarin pagi saat Oma nemuin surat dari FTMD yang
isinya menyatakan dia lulus tes masuk dengan passing grade 72%
“akhirnya
mimpi elo tercapai juga eh jangan lupa syukurannya gue tunggu”
“ah
elo, kalo urusan makan aja cepet banget”
“biarin
dong, suka-suka gue”
“udah
ya teleponnya, gue masih ngantuk, bye” dengan asal Vares langsung melempar
ponselnya setelah sebelumnya dia sudah mengaktifkan mode silent
Di
ujung telepon yang lain Julio sedang menggerutu
“ni
anak emang kebangetan deh, masa iya gue belum selesai orasi eh udah dimatiin
teleponnya, awas aja lo kalo ketemu gue, bakalan gue bejek-bejek gak pake
ampun”
***
“aaaaa......Banduung.......”
teriak Julio begitu turun dari pesawat di bandara Husein Sastranegara, Bandung.
Vares
sedang menikmati setiap inchi pemandangan bandara yang disuguhkan didepan
matanya saat ini. Hamparan landasan pesawat yang dikelilingi sawah nan hijau
diseberang. Puas memandangi karya agung ciptaan Tuhan itu dia bergegas menuju
ke pintu kedatangan domestik bandara karena ada seseorang yang sedang
ditunggunya
“woooiiiiiiiiiiiii...........Reeesss......Vaarreessss......my
dear, my love, my beib, my wow” teriak Julio disertai begitu mengetahui Vares
telah berdiri di dekat pintu kedatangan domestik.
Vares
yang sedang celingak-celinguk kaget mendengar namanya disebut dengan heboh oleh
sebuah suara laki-laki yang tak lain milik sahabatnya. Mendadak semua mata
orang yang ada di bandara tertuju padanya dengan tatapan curiga. Memang menurut
Vares, Julio itu agak gak beres otaknya tapi dia gak nyangka kalo gak beresnya
itu parah banget kayak sekarang.
“iihhh....apaan
sih lo pake peluk-peluk gue segala” kata Vares sambil menggeliat risih melepas
pelukan Julio ditubuhnya
“elo
itu harusnya merasa beruntung karena gue peluk kayak gini kan jarang-jarang ada
orang yang bisa meluk gue” sahut Julio santai masih tetap memeluk Vares
“beruntung
nenek lo soakk!!! Nih makan tangan gue” Vares mendorong muka Julio dengan
tangannya membuat pelukan Julio lepas, berlari menjauh dari sosok Julio yang
ada dibelakangnya.
Tiba-tiba
mata Vares terpanah dengan sesosok gadis berkerudung putih, yang terlihat
cantik dengan sweater kuning yang dipakainya,
“Woy lo ngelihatin apa kok
berhenti?” Tanya Julio yang tidak mengerti mengapa Vares tiba-tiba menghentikan
langkahnya
“Dia cantik banget.” Ucap Vares
sambil tersenyum memandang gadis itu
“Lo ngomong sama siapa sih? Aneh
banget.” Tanya Julio mencari apa yang dilihat Vares
Vares
tidak menjawab pertanyaan Julio, tiba-tiba saja Vares langsung meninggalkan
Julio dan menghampiri gadis yang dilihatnya,
“Hai….” Sapa Vares kepada gadis
itu
“Iya….” Sapa balik dari gadis
itu sambil tersenyum menatap Vares
“Nama kamu siapa?” Tanya Vares
tanpa basa basi
“Aku? Emm… Namaku Fiona.” Jawab
gadis itu yang merasa aneh karena tiba-tiba Vares menanyakan namanya
“Nama lengkapnya?” Tanya Vares
lagi
“Fiona Mutiara.” Jawab gadis itu
“Woy-woy men lo kok ninggalin
gue sih?” Sambung Julio yang tiba-tiba datang menghampirinya
‘Aduh
ini anak nge-gagalin moment special gue.’ Ucap Vares dalam hati
“Hehe… maaf ya.” Ucap Vares
kepada gadis itu sambil mengajak Julio pergi
“Men lo ngapain sih tadi?” Tanya
Julio
“Hah lo nge-gagalin rencana gue
buat kenalan sama cewek.” Jawab Vares jengkel
“Lhoh kok gue, lo sih tiba-tiba
ninggalin gue, ya gue bingung lah men tiba-tiba lo aneh.” Jawab Julio tidak
mengerti
“Hah udah lah.” Jawab Vares
pasrah
“Cewek yang tadi itu siapa men?”
Tanya Julio penasaran
“Nah tadi gue mau kenalan sama
dia tapi lo malah nyamperin gue, jadi gagal kan.” Jawab Vares
“Lo sih kenalan sama cewek nggak
ngajak-ajak gue, cewek tadi cantik banget men”, balas Julio sambil tertawa
“Udah lo nggak perlu tau.” Jawab
Vares
“Ah lo men.” Jawab Julio
***
Siang
itu telah berlalu, sesampai dirumah Vares segera mengambil iPadnya dan log in
akun facebook, twitter, bbm, instagram, line, whatsapp, wechat, path, kakaotalk
dan masih banyak lainnya itu hanya untuk searching nama gadis yang dia temui
tadi siang,
“Aduh yang mana ya, nama Fiona
Mutiara kok banyak banget gini sih.”
Beberapa saat
kemudian,
“Nah, ini dia yang gue
cari-cari, beneran deh ini cewek cantik banget, nggak salah gue ngajak kenalan
tadi siang.” Ucap Vares
Setelah
menemukan official account dari gadis yang tadi siang dia temui, Vares segera
meminta gadis itu untuk memfollow kembali beberapa akun punya Vares, Vares juga
telah menemukan nomor handphone dari gadis itu.
Jam
telah menunjukkan pukul 02.07 pagi, Vares belum juga tidur karena dia ingin
menemani Fiona, si gadis yang dia temui tadi siang yang masih mengerjakan tugas
kuliahnya. Dan besok pagi Vares juga merencanakan untuk bertemu dengan Fiona.
***
Keesokan
harinya, pagi-pagi sekali, Vares telah berdandan rapi dengan almamater teknik
penerbangannya dan badge di sisi lengan kanannya bergambar Otto Lilienthal,
“Tumben pagi-pagi kok udah rapi
sekali, mau ke kampus kan?” Tanya mama Vares
“Iya ma, kayak gininya cukup
hari ini aja.” Jawab Vares sambil tertawa
“Kok cukup hari ini, memangnya
hari ini ada apa?” Tanya mama Vares lagi
“Aku mau ketemuan sama cewek
cantik banget deh ma.” Jawab Vares menatap mamanya
“Ya sudah tapi nanti pulangnya
jangan larut malam ya.” Ucap mama Vares sambil merapikan baju Vares
“Oke mama.” Jawab Vares
***
Siang
hari, setelah pulang dari kampusnya, Vares segera menemui Fiona yang sedang
praktikum di sebuah rumah sakit di dekat kampusnya,
“Fiona….” Sapa Vares
“Hai, kamu yang kemarin ya?”
Tanya Fiona
“Iya.” Jawab Vares
“Kamu tahu semua akun-akun yang
aku punya sama nomor handphone-ku darimana?” Tanya Fiona yang merasa ada yang
aneh
“Tahu dong, dari hatiku.” Jawab
Vares sambil tertawa
“Ah gombal.” Balas Fiona sambil
tertawa
“Tahu nggak, kalau seseorang
yang belum pernah ketemu lalu suatu ketika dia bertemu dan itu pertama kalinya
dia melihat orang itu selama 4 detik saja itu berarti dia merasa biasa dan
menganggap tidak ada sesuatu yang istimewa dari orang itu tapi kalau orang itu
melihatnya lebih dari 8 detik itu artinya dia menganggap ada sesuatu yang
istimewa dari orang yang dilihatnya dan jika dalam hatinya dia bilang cantik
itu artinya dia suka sama orang itu.” Ucap Vares menatap mata Fiona sambil
tersenyum kepadanya
“Kamu lihat aku udah berapa
detik?” Tanya Fiona sambil tertawa
“Lebih dari 8 detik.” Jawab
Vares tanpa melepas pandangan matanya kepada Fiona
“Berarti artinya?” Tanya Fiona
lagi
“Suka!” Jawab Vares yakin
“Absurd deh.” Ucap Fiona sambil
tertawa menatap Vares
“Nggak, ini beneran.” Jawab
Vares
“Kamu suka sama aku?” Tanya
Fiona dengan senyum manisnya
“Iya.” Jawab Vares sambil
tertawa
“Kok bisa?” Balas Fiona
“Ya bisa dong, tanya deh sama
hati kecilku.” Ucap Vares sambil nunjuk hatinya
“Apa sih Res?” Tanya Fiona
“Kamu mau kan jadi pacar aku?”
Tanya Vares yakin
“Aku tidak tahu jawabannya, tapi
aku….”
“Kamu mau jadi pacar aku.” Ucap
Vares memotong pembicaraan Fiona
“Anggap aja gitu.” Jawab Fiona
meyakinkan
***
Sesampai dirumah,
dengan hati gembira, Vares menarik nafas dalam-dalam, kemudian
menghempaskan tubuh kecilnya keatas tempat tidurnya, sembari menatap
langit-langit kamarnya, dia menerawang jauh dan masih membayangkan wajah Fiona
tadi siang. Tiba-tiba Vares merasa pusing dan tanpa sadar ada bercak darah di
sprei tempat tidurnya,
“Kok
berdarah lagi, ini pasti efek dari kecelakaan sebulan yang lalu, gue tahu kata
dokter sakit ini cuma bisa sembuh dengan cara operasi tapi gue nggak bisa, gue
nggak mau kehilangan memori gue yang lalu, gue nggak mau lupa ingatan dan gue
juga belum siap untuk mati.” Bisik Vares sambil mengusap hidungnya yang meneteskan
darah
Vares segera mengambil sebuah buku
yang masih belum terisi tulisan apa-apa dan dia menceritakan semua tentang
dirinya sendiri,
“Tuhan,
kalau seandainya saja aku harus kehilangan semua memoriku di masa lalu atau pun
aku harus kembali kepada-Mu, mungkin buku ini akan jadi bukti jati diriku
sebenarnya.” Bisik Vares
***
Di suatu pagi yang cerah, Vares
terlihat sibuk,
“Res,
katanya lo lagi nyari beasiswa ke luar negeri ya?” Tanya Fiona
“Iya.”
Jawab Vares datar
“Jawabnya
cuma gitu aja, kamu kenapa sih?” Tanya Fiona lagi
“Nggak
papa.” Jawab Vares sambil menatap mata Fiona
“Kamu
mau ninggalin aku?” Tanya Fiona lagi
“Kalau
emang diterima, ya-iya aku harus pergi.” Jawab Vares sambil menatap dalam-dalam mata Fiona
“Tapi,
aku kenal kamu baru beberapa hari Res, lalu gimana tentang kita juga?” Tanya
Fiona
“Udah
lah aku janji akan ngajak kamu terbang tinggi ke atas awan dengan sayap-sayapku
kalau saja aku lolos dari scholarship ini.” Jawab Vares sambil menggenggam erat
tangan Fiona
“Emang
kamu punya sayap?” Ucap Fiona sambil tersenyum kepada Vares
“Akan
aku buat.” Ucap Vares sambil tertawa
“Buktikan!
Akan aku tunggu.” Jawab Fiona yakin
***
Sore harinya di depan rumah Fiona,
“Fiiiooo,
Fiiiooo.” Teriak Vares
“Vares!
kamu kenapa?” Tanya Fiona
“Aku
lagi seneng lo.” Jawab Vares
“Seneng?”
Tanya Fiona
“Aku
diterima di Aeronautics and Astronautics, Massachusetts Institute of Technology,
universitas yang dari dulu aku cita-citain.” Jawab Vares bahagia
“Kamu
jadi ninggalin aku, bagaimana dengan janjimu? Janji kita.” Tanya Fiona
“Suatu
hari nanti aku akan membuat pesawat untukmu dan mengajakmu terbang jauh
bersamaku.” Jawab Vares
“Aku
sayang banget sama kamu.” Ucap Fiona sambil menatap wajah Vares
“Ich liebe dich.” Ucap Vares
***
Pikiran Fiona tidak bisa lepas dari
Vares, dalam hati dia berkata,
“Gue
nggak tahu kenapa rasanya jadi aneh banget padahal gue kenal Vares baru
beberapa hari dan nggak tahu kenapa dia juga seaneh itu tiba-tiba ngajak
kenalan dan langsung ngajak gue pacaran dan yang lebih betapa anehnya lagi gue
mau pacaran sama dia tanpa mikir dulu padahal gue belum tahu apa-apa tentang
dia, rasanya setelah dia mau ninggalin gue itu gue ngerasa seperti kehilangan
jiwa gue, sebelum gue ketemu dia, gue ngerasa hati gue kosong tapi setelah dia
hadir dalam hidup gue, gue ngerasa semua jadi lebih berwarna, gue nggak tahu
kenapa gue ngerasa sayang banget sama dia dan pengen banget dia selalu ada
disamping gue.”
***
Hari ini begitu cerah dan dihari ini
pula Vares benar-benar akan pergi meninggalkan Fiona ke Amerika,
“Tuhan,
jika ini memang jalan terbaik untukku, ijinkan aku untuk kembali pulang menemui
orang-orang yang aku sayang tapi jika ini adalah yang terakhir kalinya aku
menginjakkan kakiku disini, setidaknya aku telah meninggalkan surat untuk
mereka agar mereka semua tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa alasanku
melakukan semua ini.” Ucap Vares dalam hati
***
Midnight in USA, Vares terdiam
sendiri ditemani udara dingin di musim itu,
“Gue
disini sendiri, nggak akan ada orang yang tahu apa-apa tentang gue, besok
adalah hari pertama gue kuliah di universitas kelas dunia yang dari dulu jadi
keinginan gue tapi sekarang mungkin akan jadi tempat terakhir dalam hidup gue.”
Ucap Vares dalam hati
***
7
hari kemudian…
Hari ini adalah 7 hari sepeninggalan
Vares ke Amerika, suasana rumah terasa sunyi tanpanya. Tanpa sengaja mama Vares
menemukan surat Vares yang memang akan
diberikan kepada mamanya. Semua tidak tahu mengapa surat itu baru ditemukan
setelah 7 hari Vares pergi, mama Vares membuka surat itu perlahan menyadari ada
beberapa tetes noda darah disana....
Aku minta maaf
Aku harus pergi meninggalkan semuanya
Sebenarnya alasanku berusaha keras untuk mengejar
beasiswa ini bukan hanya untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginanku dari
dulu untuk mengajak semua terbang bersamaku nanti.
Tapi alasanku yang sebenarnya adalah karena aku
sakit dan tidak ada seorang pun yang tahu tentang keadaanku ini, aku tahu sakit
ini karena kesalahanku sendiri akibat kecelakaan satu bulan yang lalu dan hanya
bisa disembuhkan dengan cara operasi, tapi aku yakin kalian semua tahu
bagaimana sifat dan kelakuanku bukan? Aku tidak ingin dioperasi....aku tidak
mau kehilangan memori tentang jati diriku yang sebenarnya, di lain sisi aku
juga belum siap mati jika andaikan operasi yang kulakukan gagal
Oleh karena itu aku memutuskan untuk pergi karena
aku tidak ingin semua orang tahu tentang keadaanku
Aku tidak ingin menjadi orang yang selalu
merepotkan dan menjadi beban bagi orang lain
Disini aku kan berusaha melawan penyakit ini
semampu sekuat dayaku
I promise !!
But someday when you will fly away
without me
Maybe this is my one last breath, my last
farewell message to you all. Love you J
Setelah membaca surat dari Vares,
Fiona dan mama Vares segera menyusul Vares ke Amerika.
***
Disebuah rumah sakit di kota
Massachusetts, terbaring lemah tubuh Vares yang sudah tidak sadarkan diri,
“Varess,
Vares kenapa, Vares kenapa nggak cerita semua ini sama mama?” Ucap mama Vares
dengan tangis mengisak dan memeluk tubuh kecil Vares
“Res,
kamu punya janji untuk terbang bersamaku dengan sayap-sayapmu, mana janjimu
Res.” Ucap Fiona yang airmatanya mulai tergantung di pipinya
“Miss, your son is pain of blood coagulation in brain and he have
died 7 hours ago.” Jawab dokter yang menangani Vares
“Nggak, nggak mungkin, Vares nggak mungkin ninggalin mama, pasti
semua ini bohong, bangun Res, bangun!” Teriak mama Vares yang tidak percaya
bahwa ternyata anaknya sudah meninggal
“Gue nggak percaya secepat ini lo ninggalin gue Res, secepat dulu
lo buat hubungan antara gue sama lo menjadi kita dan sekarang secepat ini pula
lo ninggalin gue untuk selamanya. Gimana dengan janji lo? gimana dengan semua
yang pernah kita rangkai dulu?” Ucap Fiona dalam hati yang tak kuasa menahan
tangis atas kepergian Vares untuk selamanya
Hari semakin
sunyi tanpa ada lagi senyum, canda, tawa yang mewarnai hari-hari Fiona. Tiada
yang percaya Vares akan meninggalkannya secepat ini, secepat pesawat terbang
jauh menghilang lenyap di telan angkasa. Sayap-sayapnya telah hilang dan kini
tiada lagi kata terbang tinggi diatas awan. Tapi semuanya akan tetap terkenang
jauh dalam angan-angan.
~J~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar