Senin, 09 Maret 2015

Serpihan kenangan.mhz

Di sepertiga penghujung malam ku teringat akan dirimu. Kenangan setahun yang lalu adalah saat terakhir kita berjumpa.
***
Pagi itu aku hanya menjadi salah satu sukarelawan untuk mengambil daftar nama anggota kelas di ruang BK, entah kenapa waktu itu aku mau melakukannya. Saat aku berjalan menyusuri lorong demi lorong sekolah kulihat samar kau berdiri di depan ruangan yang kutuju. Semakin mendekat aku semakin yakin bahwa itu adalah dirimu, seseorang yang telah lulus dari sekolah ini 2 tahun silam. Sekilas aku menilai penampilanmu sekarang, tak ada perubahan berarti, kamu tetaplah seorang cowok tinggi, item manis, dan keren. Kau ulurkan tangan kokohmu untuk menjabat tangan mungilku ini, nyaman, hangat, erat dan lama bahkan engkau tak peduli dengan tatap-tatap mata mereka yang memandang heran kepada kita karena ngobrol sambil jabatan tangan sedari tadi.
"Ngapain mas disini? Tumben"
"Mau ambil ijazah sama skhun, kamu sendiri ngapain?"
"Mau ambil daftar nama anggota kelas di BK, mau daftar polisi ya?" Soalnya waktu itu lagi musim pendaftaran polisi sama TNI
"Enggak dek, cuma mau ambil itu aja"
"Kenapa mas? Padahal sampean cocok loh umpama jadi ABRI gitu, keren hahaha"
"Bisa aja kamu dek, kabarmu gimana dek?"
"Alhamdulillah baik, mas sendiri?"
"Alhamdulillah baik juga"

Lama-lama aku semakin risih akan pandangan mereka yang berlalu-lalang disekitar, aku gak suka menjadi pusat perhatian hanya karena genggaman seorang smasher voli. Buru-buru kulepas jemariku dari genggamanmu dan aku pamit untuk menunaikan tugasku, mengambil daftar nama. Sebelum aku pergi, kamu berkata, "ntar dilanjut lagi ya ngobrolnya?" yang kubalas hanya dengan senyum semata.
***
Didalam kelas aku teringat terus dengan ucapanmu bahkan jujur aku ingin waktu yang lebih lama lagi bersamamu tapi apa dayaku, wali kelas sudah hadir dan sedang menerangkan pelajaran ekonomi. Jauh didasar hati aku berdoa agar pelajaran ini cepat selesai supaya aku bisa bertemu lagi denganmu. Hingga bel tanda istirahat berbunyi aku langsung keluar kelas begitu si guru menutup pelajaran.
***
Bersama sahabatku, aku mencarimu ke setiap area sekolah namun sayang aku tidak dapat menemukanmu, mungkin kau telah keluar, telah pergi. Menyesal karena gak ketemu? Ya pastilah tapi mau gimana lagi penyesalan slalu datang diakhir.
***
Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun, namun tak ada sedikit kabar darimu, dimana kamu sekarang, sedang apa kamu sekarang dan gimana keadaan kamu. Nunggu hanya itu yang aku lakukan bahkan akhir-akhir ini aku sering kepikiran tentang kamu. Dimanapun kamu, aku berharap kamu akan slalu baik-baik saja, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin ya rabbal allamiin...
***
Aku akan menunggu sampai kamu kembali dan semoga kamu melakukan saran aku.
***
MHZ. by a.de.er.el

Jumat, 13 Juni 2014

Sayap - Sayap yang Hilang


Sayap – Sayap yang Hilang
By : a.de.er.el dan Barl
5.....4.....3.....2.....1.....
Dengan mata terpejam aku menghitung mundur waktu dan pada hitungan terakhir aku membuka kedua kelopak mataku perlahan. Dihadapanku terhampar daratan luas berwarna putih yang tak kuketahui ujungnya. Langkah demi langkah kakiku menyusuri daratan itu, namun tetap saja aku tak dapat melihat warna lain selain putih. Otakku berpikir, tempat apakah ini sebenarnya? Apa tak ada seorang pun yang tinggal disini? Tak adakah jalan keluar dari tempat ini?. Saat berpikir itu aku mendengar samar sebuah suara perempuan tengah menyanyikan sebuah lagu....
Semua tentangmu..
Selalu membekas di hati ini
Cerita cinta kita berdua
Akan selalu....
Semua kenangan tak mungkin bisa
(ku lupakan ku hilangkan)
Takkan mungkin ku biarkan cinta kita berakhir
Ku tak rela, ku tak ingin kau lepaskan semua
Ikatan tali cinta yang tlah kita buat selama ini
Mataku langsung mencari-cari dari mana suara perempuan itu berasal tapi aku tak berhasil menemukan tanda-tanda adanya orang di tempat ini.
“aahhhh.....tempat apa ini? Mengapa ada suara tanpa wujud? Apa mungkin aku sedang bermimpi? Tuhan...tolonglah hamba-Mu keluar dari tempat ini, hamba mohon,” pintaku.
***
Di sebuah kamar ICU di salah satu rumah sakit terkenal di Surabaya, terbaring seorang anak laki-laki dengan berbagai alat medis ditubuhnya. Disampingnya tampak seorang gadis memegang tangan kanan anak laki-laki itu menyanyikan lagu kenangan antara dia dan anak laki-laki yang sedang koma itu. Lagu yang isinya sama dengan janji mereka beberapa tahun yang lalu....
Aku disini selalu menanti
Ku takkan letih menunggumu
Aku disini selalu menanti
Ku takkan letih menunggumu
“bangun Res, gue mohon buka mata lo...ini gue Silvi, pacar lo...ayo dong bangun, lo udah 15 hari tidur gak bangun-bangun” kata cewek yang bernama Silvi dengan diiringi isak tangis. Sebenarnya Silvi itu bukanlah pacar Vares, lebih tepatnya Silvi itu mantan pacarnya Vares. Mereka berdua putus saat Silvi memilih untuk kuliah di Jakarta 3 tahun yang lalu.
“udah Vi jangan nangis gini dong, lo itu harusnya ngasih support buat Vares biar dia bangun dari komanya,” ucap Julio yang tak lain adalah sahabat akrab Vares sambil mengelus lembut pundak Silvi.
“gue takut kehilangan Vares, Julio...gue masih sayang banget sama dia, gue gak mau dia ninggalin gue, Julio”
“ya karena itu, lo mestinya doain dia biar cepet sadar dan kumpul bareng kita lagi”
Selama Julio dan Silvi bicara, mereka berdua tak menyadari bahwa jemari tangan kiri Vares bergerak pelan sangat pelan yang membuat orang sekitarnya tak menyadari hal itu. Barulah ketika jemari tangan kanannya bergerak dan kelopak matanya terbuka semua orang yang berada di ruangan itu langsung mengelilingi ranjang tempat Vares terbaring.
“panggil dokter!! Cepet panggil dokter!!” teriak mama Vares. Julio yang berada didekat tombol pemanggil dokter segera memencet tombol itu. Tak berselang lama seorang dokter datang disertai dua orang perawat langsung memeriksa kondisi Vares.
“gimana dok? Vares gak papa kan?,” ucap mama Vares ketika dokter selesai memeriksa anaknya
“alhamdulillah...Vares sudah melewati masa kritisnya tetapi masih harus dalam perawatan medis” terang dokter
Mama Vares beranjak menuju samping ranjang anaknya mengelus rambutnya dengan penuh kasih
“syukurlah sayang kamu udah sadar, mama khawatir banget sama kamu”
“ehhm....ibu siapa ya? Dan mereka semua juga siapa? Kok ibu kenal sama aku?” kata Vares yang membuat mamanya langsung shock
“ka..kamu gak ngenalin mama? Ini mama kamu Vares, mama yang ngelahirin dan ngebesarin kamu sayang, trus ini papa kamu, itu Julio sahabat kamu dan yang cewek itu Silvi pacar kamu” mama Vares menerangkan pada anaknya sambil menunjuk orang yang disebutkan namanya.
“Vares itu siapa?”
“Vares itu nama kamu sayang, Vares Erlangga”
“jadi nama aku Vares ya, maaf aku gak inget sama sekali tentang diriku sendiri”
“gak papa kok sayang, yang penting kamu sadar itu aja udah buat mama seneng banget”
“ehm, Vares istirahat aja dulu ya, jangan banyak ngobrol dulu karena kamu belum sepenuhnya sembuh” suruh dokter
“iya dok!!”
“mari Pak Bu ke ruangan saya, akan saya jelaskan tentang kondisi Vares lebih rincinya” ajak dokter itu sambil melangkah keluar kamar
***
Ruangan dokter
Dokter yang diketahui bernama Ifan itu tengah membolak-balik catatan kesehatan dan hasil check up yang dilakukan terhadap Vares selama 15 hari terakhir ini. Dihadapannya orangtua Vares duduk menunggu penjelasan dokter tentang kondisi anak mereka. Dia sendiri sudah menduga bahwa Vares akan amnesia karena luka yang didapatinya.
“dokter, gimana kondisi anak kami sebenarnya?” tanya papa Vares memecahkan keheningan yang tercipta semenjak mereka memasuki ruang dokter Ifan.
“hmm...menurut hasil pemeriksaan dan apa yang terjadi tadi, saya mengambil kesimpulan bahwa Vares memang mengalami amnesia akibat luka di kepalanya” jawab dokter Ifan
“berapa kira-kira lama amnesianya? Adakah cara untuk mengembalikan ingatan Vares?” kali ini mama Vares yang bertanya
“saya tidak bisa memperkirakan berapa lama Vares akan amnesia, karena itu tergantung dengan niat Vares sendiri untuk memulihkan ingatannya, kita semua hanya bisa berharap saja dan juga menurut saya Vares bisa sadar adalah keajaiban karena jarang saya temui ada orang yang selamat setelah mengalami kecelakaan semacam itu”
“kalau begitu kami berdua permisi dok”
“ya silahkan”
***
Vares telah dipindahkan dari ICU ke kamar rawat VIP dan beberapa alat medis yang menempel ditubuhnya satu per satu dilepas menyisakan infus dan alat pernafasan saja. Di dalam kamarnya yang baru itu Vares ditemani oleh Julio dan Silvi yang sedari tadi sibuk mengobrol tidak jelas disertai humor-humor garing. Tiba-tiba ponsel Silvi berbunyi...
“halo? Iya mah, iya Silvi juga udah mau pulang kok, dah mama” begitulah isi percakapan telepon Silvi
“eh gue pulang dulu ya, udah dicariin mama, cepet sembuh ya Vares sayang” pamit Silvi kemudian
“ah ya, makasih, hati-hati”
Setelah Silvi pergi Julio dan Vares ngobrol akrab banget kayak sahabat yang udah gak ketemu puluhan tahun seolah-olah Vares itu gak lagi amnesia, Julio cerita tentang masa-masa mereka dulu dari yang baik-baik sampai yang jelek hingga akhirnya Vares membuka mulut bertanya tentang hal yang sangat ingin diketahuinya.
“eh Julio, gue boleh tanya gak sama elo?” tanya Vares
“tanya apaan emang?”
“kok gue bisa ada di rumah sakit sih? Emangnya apa yang terjadi sama gue sebelumnya?”
“oh itu, gini ceritanya.....
“beberapa hari sebelumnya itu elo putus sama cewek yang lo sayang, namanya Nadine dan semenjak itu elo jadi pendiem, cuek, dingin sampek akhirnya waktu pulang kampus di hari yang naas itu, elo kecelakaan...keserempet truk waktu lo mau nyalip truk itu trus lo nginep disini deh” Julio menceritakan hal inti yang terjadi pada sahabatnya itu dengan nada bercanda trus dia nambahin ceritanya “yang gue sayangin dari peristiwa itu sih motor ninja baru lo jadi ringsek, kan rugi beli mahal-mahal gitu trus abis dilindes truk, sayang abis kan?” Julio mengakhiri ceritanya dengan tampang tanpa dosa.
“ahh...rese lo, harusnya elo itu lebih perhatian sama gue bukan motor gue, kan gue yang jatoh trus sakit” omel Vares
“ngapain juga gue perhatian sama elo, iddiiiihh...lo kira gue maho? Jatoh itu juga kan salah elo, udah tau badan lo kecil sok-sokan naik ninja” cibir Julio
“lo kok ngeledekin gue mulu sih? Lo sahabat gue bener gak sih? Bukannya muji-muji gue gitu”
“ah tu mah maunya elo bukan gue”
“ya emang, trus satu lagi deh Julio, ini tentang Silvi”
“kenapa emang si Silvi?”
“gue minta lo jawab jujur karena cuma elo yang gue percaya sekarang, sebenernya hubungan gue sama dia itu gimana sih? Dia bilang ke gue kalo gue itu pacarnya, mama juga bilang gitu dan siapa lagi tuh Nadine?” Vares bingung karena entah kenapa di dalam hatinya yakin kalo dia sudah tak memiliki hubungan apapun dengan Silvi tapi kenapa mama dan Silvi bilang mereka pacaran.
“dengerin gue baik-baik, elo sama Silvi itu pacaran tapi dulu sekarang udah enggak karena dia mutusin elo sebelum dia kuliah ke Jakarta, buat masalah Nadine sih setau gue sebagai sahabat elo ya, dia adalah pacar pertama elo setelah elo putus dari Silvi dan jadi jomblo selama 2 tahun tapi sebelum kecelakaan itu dia udah jadi mantan elo”
“pantes gue juga ngerasanya gitu tentang Silvi dan waktu elo cerita tentang Nadine dada gue rasanya sakit banget”
“masih bisa ngerasa juga lo? Alhamdulillah deh, berarti organ tubuh elo masih berfungsi normal, Hehehe...”
“huu...rese lo...”
Lalu terjadilah aksi ledek meledek satu sama lain hingga kedua orangtua Vares memasuki kamar
“ada apa ini? Kok kayaknya seru banget?” Kata mama Vares saat mengetahui keakraban Vares dan sahabatnya
“hehehe gak papa kok Tante, berhubung Tante sama Om udah disini saya pamit dulu udah sore soalnya” Julio berpamitan pulang
“makasih ya Julio udah nemenin Vares, hati-hati di jalan” kata Mama Vares dan Papanya Cuma tersenyum
“oke Tante”
***
Keesokan paginya, Vares terbangun karena mendengar perdebatan yang sengit. Ketika matanya terbuka dihadapannya berdiri mama papanya dan pasangan lain yang jauh lebih tua. Dalam diam dia mendengarkan semua perdebatan orang-orang dewasa didepannya.
“Regi, mama sama papa mau bawa Vares ke Bandung, disana pengobatannya jauh lebih baik!”, kata wanita tua itu yang bisa disimpulkan oleh Vares kalo itu adalah Neneknya dan disampingnya itu pasti Kakeknya.
“ya gak bisa gitu dong ma, Vares itu anak aku jadi dia itu tanggung jawab aku sebagai papanya”
“tanggung jawab? Kamu tau nggak kalo apa yang terjadi sama Vares itu juga karena kecerobohan kamu, mama sama papa gak bisa percayain Vares cucu laki-laki satu-satunya di keluarga kita ke kalian lagi”
“itu musibah, gak ada orang yang bisa menghindari musibah, dan juga mama sama papa gak punya hak atas Vares jadi mama sama papa gak boleh bawa Vares”
“mama sama papa gak mau tau, pokoknya Vares ikut kita” kata Mamanya papa Regi
“lagian papa juga udah siapin segala keperluan Vares buat ke Bandung dan hari ini juga Vares bakal dibawa ke Bandung trus kalian urus aja Meydia anak kesayangan kalian berdua”
“ma...pa...udah dong debatnya” lerai Vares yang sedari tadi diam
“loh kamu udah bangun?” tanya mamanya yang hanya dibalas anggukan kepala
“Vares ini oma sayang, dan ini yang disamping oma adalah opa kamu” wanita tua itu memperkenalkan dirinya ke Vares karena sudah mendapat informasi dari dokter kalo Vares kena amnesia
“iya oma, makasih udah jengukin Vares, maa..Meydia itu siapa?”
“Meydia itu kakak perempuan kamu sayang”
“kok dia gak jengukin aku ma?”
“kakak lagi ada ujian semester di kampusnya”
“udah Vares jangan tanya tentang Kak Meydia lagi, sekarang kita siap-siap karena oma sama opa mau ngasih pengobatan terbaik buat kamu di Bandung, mau ya sayang?” bujuk oma
“emang disini gak baik?”
“baik sih Cuma oma mau yang paling terbaik buat kamu, mau ya?”
“ya udah deh”
“Vares jangan tinggalin mama” air mata mengaliri pipi putih sang mama
“ma, Vares itu mau berobat, bukan ninggalin mama, Vares pengen sembuh, boleh ya ma?”
“iya deh kalo gitu, jaga diri ya sayang”
“iya mama”
***
Sudah seminggu lebih Vares tinggal di kota kembang ini melakukan pengobatan seperti yang disarankan oma dan opanya. Hari ini dia mau ikut opanya ke kampus tempat opa mengajar mahasiswanya dan kalian tau dimana? ITB...ya ITB..Institut Teknologi Bandung, opa Vares termasuk dalam jajaran dosen senior dalam jurusan Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika (STEI) di kampus terbaik Indonesia ini. Saat di perjalanan, opanya menghentikan mobil yang dikendarainya hendak menyapa salah seorang mahasiswanya yang sedang berjalan di trotoar.
“Rengga, ayo berangkat bareng Bapak aja, ini udah siang ntar kamu telat” ajak Opa Widhi
“wahh...gak ngerepotin Pak?”
“gak papa, lagian kan kita satu kampus sekalian juga Bapak mau ngenalin kamu sama cucu Bapak, siapa tau kalian bisa berteman” Rengga menerima tawaran Pak Widhi setelah berpikir sesaat.
“makasih Pak” kata Rengga saat turun dari mobil
“ya sama-sama, Res...kamu mau ikut opa atau lihat-lihat kampus?” tanya Pak Widhi pada cucunya
“aku lihat-lihat kampus aja dulu opa, ntar kalo udah bosen aku telepon opa deh”
“mau gue temenin gak Res?” tawar Rengga yang sedikit banyak mulai akrab sama Vares karena obrolan kecil di mobil tadi
“emangnya elo gak ada kelas gitu?”
“ada sih, tapi mending kan gue nemenin elo biar gak nyasar”
“tenang aja bro, gue gak bakalan nyasar karena gue bawa smartphone kok” kata Vares sambil memamerkan smartphone keluaran terbaru miliknya
“ya udah terserah elo juga deh tapi kalo elo butuh gue tinggal telepon gue aja, oke? Udah lo simpen kan nomer gue?”
“iya iya, kalo gue butuh gue bakal telepon elo kok, udah sana buruan masuk!! Opa juga masuk sana, Vares mau keliling kampus dulu, daahh...”
Vares melebur menjadi satu dengan para mahasiswa yang berlalu lalang di kampus mengamati setiap detail kampus yang kata Omanya adalah kampus yang pengen dia masukkin tapi gak boleh sama mama dan papanya. Waktu itu katanya dia pengen banget masuk Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara biar bisa bikin pesawat buat dipakai keliling dunia bareng orang yang dia sayangi. Dan sekarang di depannya berdiri kokoh bangunan fakultas yang diinginkannya dulu sebelum hilang ingatan. Dia terpesona sama fakultas itu, mematung gak percaya kalo dia benar-benar bisa berdiri tepat di depan fakultas itu, dia pun juga sudah bertekad bahwa apapun yang terjadi dia akan masuk ke fakultas itu, HARUSS...!!
***
“Oma....Oma....” panggil Vares begitu sampai di rumah
“apa sayang?” respon Omanya
“Vares mau daftar tes ke FTMD, boleh kan?”
“ya boleh dong sayang siapa juga yang mau melarang kamu”
“yess...makasih Oma, aku sayang banget sama Oma”
“Cuma sama Oma doang sayangnya?” Opa Widhi iri
“hehehe...sama Opa juga dong”
***
Pagi ini Vares sudah nampak rapi duduk di teras rumah menunggu Opanya turun. Dia akan berperang hari ini, lawannya adalah soal-soal ujian masuk FTMD.
“Opa...ayo dong cepet, lama banget sih?” tidak sabar menunggu Opanya, Vares berjalan bolak balik kayak setrikaan di teras rumah
“iya iya ini udah siap” balas Opanya sambil keluar rumah ditemani istrinya
“Vares..jangan lupa berdoa dulu sebelum ngerjain soalnya” Omanya mengingatkan
“siap Oma, laksanakan!!” jawab Vares dengan bergaya hormat kayak waktu upacara, lalu bersalaman mencium punggung tangan Omanya
“doain aku ya Oma”
“pasti sayang...!!”
***
Nada dering ponsel berbunyi nyaring membangunkan si pemiliknya, Vares yang tertidur pulas
“halo...”
“woy men...beneran kan ini nomer elo? Gue kangen sama elo tau gak? Elo ke Bandung kok gak bilang-bilang gue sih?” cerocos orang di seberang telepon
“ini siapa ya?”
“ya elah masa iya elo lupa sama gue? Sama suara merdu gue? Ini gue Julio, sohib lo mamen”
“ngapain elo telepon gue jam segini gak punya jam ya di rumah elo? Ini tuh masih jam 02.00 dini hari waktu paling enak buat tidur”
“hehehe...sorry men, abis kalo telepon jam segini kan murah”
“huu..suka banget lo sama yang murah-murah”
“biarin wleekk...gue denger elo keterima di FTMD bener gak?”
“iya” jawab Vares teringat kejadian kemarin pagi saat Oma nemuin surat dari FTMD yang isinya menyatakan dia lulus tes masuk dengan passing grade 72%
“akhirnya mimpi elo tercapai juga eh jangan lupa syukurannya gue tunggu”
“ah elo, kalo urusan makan aja cepet banget”
“biarin dong, suka-suka gue”
“udah ya teleponnya, gue masih ngantuk, bye” dengan asal Vares langsung melempar ponselnya setelah sebelumnya dia sudah mengaktifkan mode silent
Di ujung telepon yang lain Julio sedang menggerutu
“ni anak emang kebangetan deh, masa iya gue belum selesai orasi eh udah dimatiin teleponnya, awas aja lo kalo ketemu gue, bakalan gue bejek-bejek gak pake ampun”
***
“aaaaa......Banduung.......” teriak Julio begitu turun dari pesawat di bandara Husein Sastranegara, Bandung.
Vares sedang menikmati setiap inchi pemandangan bandara yang disuguhkan didepan matanya saat ini. Hamparan landasan pesawat yang dikelilingi sawah nan hijau diseberang. Puas memandangi karya agung ciptaan Tuhan itu dia bergegas menuju ke pintu kedatangan domestik bandara karena ada seseorang yang sedang ditunggunya
“woooiiiiiiiiiiiii...........Reeesss......Vaarreessss......my dear, my love, my beib, my wow” teriak Julio disertai begitu mengetahui Vares telah berdiri di dekat pintu kedatangan domestik.
Vares yang sedang celingak-celinguk kaget mendengar namanya disebut dengan heboh oleh sebuah suara laki-laki yang tak lain milik sahabatnya. Mendadak semua mata orang yang ada di bandara tertuju padanya dengan tatapan curiga. Memang menurut Vares, Julio itu agak gak beres otaknya tapi dia gak nyangka kalo gak beresnya itu parah banget kayak sekarang.
“iihhh....apaan sih lo pake peluk-peluk gue segala” kata Vares sambil menggeliat risih melepas pelukan Julio ditubuhnya
“elo itu harusnya merasa beruntung karena gue peluk kayak gini kan jarang-jarang ada orang yang bisa meluk gue” sahut Julio santai masih tetap memeluk Vares
“beruntung nenek lo soakk!!! Nih makan tangan gue” Vares mendorong muka Julio dengan tangannya membuat pelukan Julio lepas, berlari menjauh dari sosok Julio yang ada dibelakangnya.
            Tiba-tiba mata Vares terpanah dengan sesosok gadis berkerudung putih, yang terlihat cantik dengan sweater kuning yang dipakainya,
“Woy lo ngelihatin apa kok berhenti?” Tanya Julio yang tidak mengerti mengapa Vares tiba-tiba menghentikan langkahnya
“Dia cantik banget.” Ucap Vares sambil tersenyum memandang gadis itu
“Lo ngomong sama siapa sih? Aneh banget.” Tanya Julio mencari apa yang dilihat Vares
            Vares tidak menjawab pertanyaan Julio, tiba-tiba saja Vares langsung meninggalkan Julio dan menghampiri gadis yang dilihatnya,
“Hai….” Sapa Vares kepada gadis itu
“Iya….” Sapa balik dari gadis itu sambil tersenyum menatap Vares
“Nama kamu siapa?” Tanya Vares tanpa basa basi
“Aku? Emm… Namaku Fiona.” Jawab gadis itu yang merasa aneh karena tiba-tiba Vares menanyakan namanya
“Nama lengkapnya?” Tanya Vares lagi
“Fiona Mutiara.” Jawab gadis itu
“Woy-woy men lo kok ninggalin gue sih?” Sambung Julio yang tiba-tiba datang menghampirinya
‘Aduh ini anak nge-gagalin moment special gue.’ Ucap Vares dalam hati
“Hehe… maaf ya.” Ucap Vares kepada gadis itu sambil mengajak Julio pergi
“Men lo ngapain sih tadi?” Tanya Julio
“Hah lo nge-gagalin rencana gue buat kenalan sama cewek.” Jawab Vares jengkel
“Lhoh kok gue, lo sih tiba-tiba ninggalin gue, ya gue bingung lah men tiba-tiba lo aneh.” Jawab Julio tidak mengerti
“Hah udah lah.” Jawab Vares pasrah
“Cewek yang tadi itu siapa men?” Tanya Julio penasaran
“Nah tadi gue mau kenalan sama dia tapi lo malah nyamperin gue, jadi gagal kan.” Jawab Vares
“Lo sih kenalan sama cewek nggak ngajak-ajak gue, cewek tadi cantik banget men”, balas Julio sambil tertawa
“Udah lo nggak perlu tau.” Jawab Vares
“Ah lo men.” Jawab Julio
***
            Siang itu telah berlalu, sesampai dirumah Vares segera mengambil iPadnya dan log in akun facebook, twitter, bbm, instagram, line, whatsapp, wechat, path, kakaotalk dan masih banyak lainnya itu hanya untuk searching nama gadis yang dia temui tadi siang,
“Aduh yang mana ya, nama Fiona Mutiara kok banyak banget gini sih.”
Beberapa saat kemudian,
“Nah, ini dia yang gue cari-cari, beneran deh ini cewek cantik banget, nggak salah gue ngajak kenalan tadi siang.” Ucap Vares
            Setelah menemukan official account dari gadis yang tadi siang dia temui, Vares segera meminta gadis itu untuk memfollow kembali beberapa akun punya Vares, Vares juga telah menemukan nomor handphone dari gadis itu.
            Jam telah menunjukkan pukul 02.07 pagi, Vares belum juga tidur karena dia ingin menemani Fiona, si gadis yang dia temui tadi siang yang masih mengerjakan tugas kuliahnya. Dan besok pagi Vares juga merencanakan untuk bertemu dengan Fiona.
***
            Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Vares telah berdandan rapi dengan almamater teknik penerbangannya dan badge di sisi lengan kanannya bergambar Otto Lilienthal,
“Tumben pagi-pagi kok udah rapi sekali, mau ke kampus kan?” Tanya mama Vares
“Iya ma, kayak gininya cukup hari ini aja.” Jawab Vares sambil tertawa
“Kok cukup hari ini, memangnya hari ini ada apa?” Tanya mama Vares lagi
“Aku mau ketemuan sama cewek cantik banget deh ma.” Jawab Vares menatap mamanya
“Ya sudah tapi nanti pulangnya jangan larut malam ya.” Ucap mama Vares sambil merapikan baju Vares
“Oke mama.” Jawab Vares
***
            Siang hari, setelah pulang dari kampusnya, Vares segera menemui Fiona yang sedang praktikum di sebuah rumah sakit di dekat kampusnya,
“Fiona….” Sapa Vares
“Hai, kamu yang kemarin ya?” Tanya Fiona
“Iya.” Jawab Vares
“Kamu tahu semua akun-akun yang aku punya sama nomor handphone-ku darimana?” Tanya Fiona yang merasa ada yang aneh
“Tahu dong, dari hatiku.” Jawab Vares sambil tertawa
“Ah gombal.” Balas Fiona sambil tertawa
“Tahu nggak, kalau seseorang yang belum pernah ketemu lalu suatu ketika dia bertemu dan itu pertama kalinya dia melihat orang itu selama 4 detik saja itu berarti dia merasa biasa dan menganggap tidak ada sesuatu yang istimewa dari orang itu tapi kalau orang itu melihatnya lebih dari 8 detik itu artinya dia menganggap ada sesuatu yang istimewa dari orang yang dilihatnya dan jika dalam hatinya dia bilang cantik itu artinya dia suka sama orang itu.” Ucap Vares menatap mata Fiona sambil tersenyum kepadanya
“Kamu lihat aku udah berapa detik?” Tanya Fiona sambil tertawa
“Lebih dari 8 detik.” Jawab Vares tanpa melepas pandangan matanya kepada Fiona
“Berarti artinya?” Tanya Fiona lagi
“Suka!” Jawab Vares yakin
“Absurd deh.” Ucap Fiona sambil tertawa menatap Vares
“Nggak, ini beneran.” Jawab Vares
“Kamu suka sama aku?” Tanya Fiona dengan senyum manisnya
“Iya.” Jawab Vares sambil tertawa
“Kok bisa?” Balas Fiona
“Ya bisa dong, tanya deh sama hati kecilku.” Ucap Vares sambil nunjuk hatinya
“Apa sih Res?” Tanya Fiona
“Kamu mau kan jadi pacar aku?” Tanya Vares yakin
“Aku tidak tahu jawabannya, tapi aku….”
“Kamu mau jadi pacar aku.” Ucap Vares memotong pembicaraan Fiona
“Anggap aja gitu.” Jawab Fiona meyakinkan
***
Sesampai dirumah, dengan hati gembira, Vares menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghempaskan tubuh kecilnya keatas tempat tidurnya, sembari menatap langit-langit kamarnya, dia menerawang jauh dan masih membayangkan wajah Fiona tadi siang. Tiba-tiba Vares merasa pusing dan tanpa sadar ada bercak darah di sprei tempat tidurnya,
“Kok berdarah lagi, ini pasti efek dari kecelakaan sebulan yang lalu, gue tahu kata dokter sakit ini cuma bisa sembuh dengan cara operasi tapi gue nggak bisa, gue nggak mau kehilangan memori gue yang lalu, gue nggak mau lupa ingatan dan gue juga belum siap untuk mati.” Bisik Vares sambil mengusap hidungnya yang meneteskan darah
            Vares segera mengambil sebuah buku yang masih belum terisi tulisan apa-apa dan dia menceritakan semua tentang dirinya sendiri,
“Tuhan, kalau seandainya saja aku harus kehilangan semua memoriku di masa lalu atau pun aku harus kembali kepada-Mu, mungkin buku ini akan jadi bukti jati diriku sebenarnya.” Bisik Vares
***
            Di suatu pagi yang cerah, Vares terlihat sibuk,
“Res, katanya lo lagi nyari beasiswa ke luar negeri ya?” Tanya Fiona
“Iya.” Jawab Vares datar
“Jawabnya cuma gitu aja, kamu kenapa sih?” Tanya Fiona lagi
“Nggak papa.” Jawab Vares sambil menatap mata Fiona
“Kamu mau ninggalin aku?” Tanya Fiona lagi
“Kalau emang diterima, ya-iya aku harus pergi.” Jawab Vares sambil  menatap dalam-dalam mata Fiona
“Tapi, aku kenal kamu baru beberapa hari Res, lalu gimana tentang kita juga?” Tanya Fiona
“Udah lah aku janji akan ngajak kamu terbang tinggi ke atas awan dengan sayap-sayapku kalau saja aku lolos dari scholarship ini.” Jawab Vares sambil menggenggam erat tangan Fiona
“Emang kamu punya sayap?” Ucap Fiona sambil tersenyum kepada Vares
“Akan aku buat.” Ucap Vares sambil tertawa
“Buktikan! Akan aku tunggu.” Jawab Fiona yakin
***
            Sore harinya di depan rumah Fiona,
“Fiiiooo, Fiiiooo.” Teriak Vares
“Vares! kamu kenapa?” Tanya Fiona
“Aku lagi seneng lo.” Jawab Vares
“Seneng?” Tanya Fiona
“Aku diterima di Aeronautics and Astronautics, Massachusetts Institute of Technology, universitas yang dari dulu aku cita-citain.” Jawab Vares bahagia
“Kamu jadi ninggalin aku, bagaimana dengan janjimu? Janji kita.” Tanya Fiona
“Suatu hari nanti aku akan membuat pesawat untukmu dan mengajakmu terbang jauh bersamaku.” Jawab Vares
“Aku sayang banget sama kamu.” Ucap Fiona sambil menatap wajah Vares
“Ich liebe dich.” Ucap Vares
***
            Pikiran Fiona tidak bisa lepas dari Vares, dalam hati dia berkata,
“Gue nggak tahu kenapa rasanya jadi aneh banget padahal gue kenal Vares baru beberapa hari dan nggak tahu kenapa dia juga seaneh itu tiba-tiba ngajak kenalan dan langsung ngajak gue pacaran dan yang lebih betapa anehnya lagi gue mau pacaran sama dia tanpa mikir dulu padahal gue belum tahu apa-apa tentang dia, rasanya setelah dia mau ninggalin gue itu gue ngerasa seperti kehilangan jiwa gue, sebelum gue ketemu dia, gue ngerasa hati gue kosong tapi setelah dia hadir dalam hidup gue, gue ngerasa semua jadi lebih berwarna, gue nggak tahu kenapa gue ngerasa sayang banget sama dia dan pengen banget dia selalu ada disamping gue.”
***
            Hari ini begitu cerah dan dihari ini pula Vares benar-benar akan pergi meninggalkan Fiona ke Amerika,
“Tuhan, jika ini memang jalan terbaik untukku, ijinkan aku untuk kembali pulang menemui orang-orang yang aku sayang tapi jika ini adalah yang terakhir kalinya aku menginjakkan kakiku disini, setidaknya aku telah meninggalkan surat untuk mereka agar mereka semua tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa alasanku melakukan semua ini.” Ucap Vares dalam hati
***
            Midnight in USA, Vares terdiam sendiri ditemani udara dingin di musim itu,
“Gue disini sendiri, nggak akan ada orang yang tahu apa-apa tentang gue, besok adalah hari pertama gue kuliah di universitas kelas dunia yang dari dulu jadi keinginan gue tapi sekarang mungkin akan jadi tempat terakhir dalam hidup gue.” Ucap Vares dalam hati
***
7 hari kemudian…
            Hari ini adalah 7 hari sepeninggalan Vares ke Amerika, suasana rumah terasa sunyi tanpanya. Tanpa sengaja mama Vares menemukan surat Vares yang memang  akan diberikan kepada mamanya. Semua tidak tahu mengapa surat itu baru ditemukan setelah 7 hari Vares pergi, mama Vares membuka surat itu perlahan menyadari ada beberapa tetes noda darah disana....

Aku minta maaf
Aku harus pergi meninggalkan semuanya
Sebenarnya alasanku berusaha keras untuk mengejar beasiswa ini bukan hanya untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginanku dari dulu untuk mengajak semua terbang bersamaku nanti.
Tapi alasanku yang sebenarnya adalah karena aku sakit dan tidak ada seorang pun yang tahu tentang keadaanku ini, aku tahu sakit ini karena kesalahanku sendiri akibat kecelakaan satu bulan yang lalu dan hanya bisa disembuhkan dengan cara operasi, tapi aku yakin kalian semua tahu bagaimana sifat dan kelakuanku bukan? Aku tidak ingin dioperasi....aku tidak mau kehilangan memori tentang jati diriku yang sebenarnya, di lain sisi aku juga belum siap mati jika andaikan operasi yang kulakukan gagal
Oleh karena itu aku memutuskan untuk pergi karena aku tidak ingin semua orang tahu tentang keadaanku
Aku tidak ingin menjadi orang yang selalu merepotkan dan menjadi beban bagi orang lain
Disini aku kan berusaha melawan penyakit ini semampu sekuat dayaku
I promise !!
But someday when you will fly away without me
Maybe this is my one last breath, my last farewell message to you  all. Love you J
            Setelah membaca surat dari Vares, Fiona dan mama Vares segera menyusul Vares ke Amerika.
***
            Disebuah rumah sakit di kota Massachusetts, terbaring lemah tubuh Vares yang sudah tidak sadarkan diri,
“Varess, Vares kenapa, Vares kenapa nggak cerita semua ini sama mama?” Ucap mama Vares dengan tangis mengisak dan memeluk tubuh kecil Vares
“Res, kamu punya janji untuk terbang bersamaku dengan sayap-sayapmu, mana janjimu Res.” Ucap Fiona yang airmatanya mulai tergantung di pipinya
“Miss, your son is pain of blood coagulation in brain and he have died 7 hours ago.” Jawab dokter yang menangani Vares
“Nggak, nggak mungkin, Vares nggak mungkin ninggalin mama, pasti semua ini bohong, bangun Res, bangun!” Teriak mama Vares yang tidak percaya bahwa ternyata anaknya sudah meninggal
“Gue nggak percaya secepat ini lo ninggalin gue Res, secepat dulu lo buat hubungan antara gue sama lo menjadi kita dan sekarang secepat ini pula lo ninggalin gue untuk selamanya. Gimana dengan janji lo? gimana dengan semua yang pernah kita rangkai dulu?” Ucap Fiona dalam hati yang tak kuasa menahan tangis atas kepergian Vares untuk selamanya
            Hari semakin sunyi tanpa ada lagi senyum, canda, tawa yang mewarnai hari-hari Fiona. Tiada yang percaya Vares akan meninggalkannya secepat ini, secepat pesawat terbang jauh menghilang lenyap di telan angkasa. Sayap-sayapnya telah hilang dan kini tiada lagi kata terbang tinggi diatas awan. Tapi semuanya akan tetap terkenang jauh dalam angan-angan.
~J~


Jumat, 25 April 2014

Bersama Selamanya


Bersama Selamanya....
By : A de Er El

Disalah satu ruang kelas sebuah lembaga bimbingan belajar namanya kelas Dutch yang isinya beberapa murid IPS sebuah SMA ternama di Banyuwangi
Drrtt...Drrtt...
Terdengar getar suara ponsel Vienna yang berada disaku jaket tanda ada sebuah sms masuk, dibacanya sms itu yang ternyata berasal dari teman sekelasnya di sekolah...
From : Verin
‘bagi siswa kelas XII IPS 1 yang belum mengumpulkan tugas ulangan tengah semester pelajaran desain, diharapkan mengumpulkan tugas segera baik softcopy maupun hasil cetakannya, terakhir malam ini’
“haaa....malam ini? Wah ini guru gila kali ya?” seru Vienna dan membuat teman-temannya yang lain menoleh
“ada apaan sih Vie? Heboh banget kelihatannya” kata Renna, sahabatnya yang sedari tadi memperhatikan tingkah polah Vienna
“ini nih Ren, gue dapet sms dari Verin kalo malem ini tuh kita harus ngumpulin tugas desain”
“malam ini? Serius lo? Ngawur banget tu guru” Renna panik
Kepanikan Renna itu sedikit banyak juga berdampak pada Vienna yang awalnya Cuma kaget sekarang jadi ikutan panik, dengan cepat Vienna membalikkan posisi badan menghadap kearah Ares dan Revin
“wooyy, kalian dapet sms gak dari Verin?” tanya Vienna pada keduanya
Ares dan Revin mulai mengecek ponsel mereka
“gue dapet” kata Revin “lo gimana Res?”
“enggak dapet, emang ada apa?”
“tugas desain kalian udah jadi belum?” tanya Vienna lagi
“punya gue udah” jawab Revin “itu yang dikumpulin softcopy sama hasil cetaknya kan?”
“iya, punya lo udah jadi belum Vie? Punya gue masih softcopynya aja belum dicetak” jawab Ares
“sama Res, gue juga belum nyetak juga, aduh gimana dong, mana lesnya baru kelar jam 6 lagi” Vienna tambah panik
“gue titip tugas gue ya Vie? Pliisss...kan tu guru rumahnya sekompleks sama elo” pinta Renna
“aduhh Ren, gue aja gak tau rumah tu guru ada disebelah mana”
“kita tanya aja sama Verin” celetuk Revin lalu dia mengirimkan sms ke Verin
“ide bagus tu, gak biasanya deh lo pinter gini, Bro” kata Ares sambil menepuk-nepuk keras pundak sahabatnya
“ahh...rese lo, sakit dodol” Revin menoyor Ares
“damai Bro, gak usah pake kekerasan” Ares mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya tanda ingin berdamai
“elo juga yang mulai”
Vienna dan Renna Cuma bengong ngelihatin Ares dan Revin berdebat padahal didepan mereka ada guru les yang lagi ngasih materi pelajaran ekonomi dan juga ada temen-temen les yang berbeda kelas tapi masih satu sekolah
“Ares! Revin! Kalian ngapain kok rame terus dari tadi?” tanya guru les ekonomi, namanya Pak HW (Heru Wahyono)
“gak papa kok pak” jawab Ares dan Revin kompak membuat Pak HW tak bertanya lebih jauh dan kembali fokus pada materinya.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan les meskipun sebenarnya masih menyisakan kebingungan bagi Vienna dan Ares yang tugasnya belum kelar. Berbeda lagi dengan Revin dan Renna, mereka berdua santai aja karena tugasnya udah kelar, yang bikin bingung gimana ngumpulin tugasnya.
Teeeettt....Teeettt....Teetttt...
Bunyi bel pulang terdengar begitu nyaring membuat keempat anak itu buru-buru keluar dari ruang kelas. Tetapi langkah mereka terhenti saat sampai di depan ruang kelas France karena Vando yang juga teman sekelas mereka menghadang langkah keempatnya.
“ah elo Van, minggir deh gue buru-buru nih” kata Vienna mendorong tubuh tinggi Vando yang ada tepat dihadapannya
“elo mau ngumpulin tugas juga kan? Gue bareng deh ya?” pinta Vando
“emang elo sekarang bawa tugasnya?” tanya Ares
“ini gue mau ngambil di rumah, tungguin gue”
“heh? Lo gila? Rumah elo itu jauh dari sini, bisa nyamukan kita nungguin elo” seru Revin
“aduhh...tolong deh, kali ini aja”
“ya udah deh kita tungguin di warnet deket kost Revin” ucap Ares akhirnya
“eh Ren, elo kan dianter sama bokap lo kan? Ajak aja bokap lo ke rumah tu guru buat ngumpulin tugas elo, ok? Soalnya elo juga tau kondisi gue kan, gue masih mau nyari percetakan dulu” saran Vienna
“oke deh kalo gitu, gue duluan” pamit Renna
“hati-hati ya”
Setelah kepergian Renna, Ares dkk langsung menuju ke parkiran bimbel buat ngambil motor mereka masing-masing
“gue duluan guys” pamit Vienna
“Vin, lo tunggu gue di kost ya, jangan ngumpulin tugas duluan!” Ares juga pamit ngikutin Vienna yang sudah melaju terlebih dahulu.
Tempat pertama yang dituju oleh Vienna dan Ares adalah toko alat tulis. Disana mereka membeli beberapa lembar kertas bufallo putih buat nyetak tugas mereka. Lalu mereka menuju belakang toko alat tulis itu karena disana ada sebuah warnet yang juga melayani percetakan tapi sial banget nasib mereka berdua hari ini, warnet itu tutup.
“ahh....sial banget sih gue? Kenapa juga ini warnet pake tutup segala” omel Vienna
“udah sabar aja deh, cari di tengah kota aja deh siapa tau masih ada yang lain” ajak Ares
Dengan malas Vienna memutar motornya mengikuti Ares yang kini sudah melaju di depannya. Sepanjang jalan itu mereka mengamati kalo-kalo ada warnet atau percetakan gitu, sebelumnya mereka telah membuat kesepakatan bahwa Ares akan mengawasi kiri jalan dan Vienna mengawasi kanan jalan. Dalam hati Vienna merasa bahagia karena malam ini dia bisa keluar berdua sama Ares. Melihat punggung cowok yang jadi pujaan di seluruh penjuru sekolah, mengamati setiap gerak cowok itu dari belakang, dan jantungnya pun ikut berdetak kencang membuat dadanya terasa sesak.
‘gue bahagia Res bisa keluar berdua sama elo, hari ini gak bakal gue lupain’ kata Vienna dalam hati
Malam semakin lama kian larut jam ditangan telah menunjukkan pukul 7. Beberapa persimpangan jalan telah mereka lalui dan beberapa warnet pula yang mereka datangi tapi sayangnya gak ada satu pun yang bisa menolong mereka buat mencetak tugas mereka, alasannya sih macem-macem, mulai dari printernya rusak, masih dibuat ngetik, gak punya software aplikasinya, sampe warna printernya Cuma ada merah item doang. Di warnet terakhir Ares menyadari kalau bensinnya tinggal satu strip...
“Res, lo udah gila apa? Tu motor isiin deh bensinnya, ogah gue kalo ntar harus ngebantuin lo buat ngedorong tu motor” Vienna mengomeli Ares yang menurutnya ceroboh banget sampe ngebiarin tangki bensinnya tersisa satu strip aja.
“iya iya Vie, ini gue juga mau beli bensin, lo gak usah ikut deh tunggu sini aja ya”
“tunggu disini? Jamuran gue nungguin elo, gue balik aja deh capek gue muter-muter gak jelas” Vienna menyalakan motornya dan putar balik berlawanan arah dengan Ares
“lah trus gue gimana? Jangan balik dong, tungguin di kost Naomi aja deh”
“ya udah” Vienna lalu menggas motornya melaju membelah jalanan lengang didepannya.
‘ngapain coba gue ke kost Naomi? Mending kan gue balik ke rumah siapa tau aja warnet deket rumah gue itu buka, ya udah deh pulang aja’ pikir Vienna dalam hati
Ketika melewati depan kost Naomi dia melihat temannya itu mau pergi tapi gak tau kemana orang perginya rame-rame, nyari makan mungkin, kan anak kost itu kalo jam segini waktunya makan malem. Sesampainya di komplek rumahnya, Vienna menuju ke warnet dan untunglah kali ini Tuhan membantunya karena warnet itu lagi buka padahal biasanya jam segini tu warnet udah tutup. Setelah memastikan bahwa warnet itu buka dia pulang buat naruh buku modul lesnya yang tebelnya bisa dijadiin bantal. Dalam pikirannya terlintas pada Ares yang beberapa saat yang lalu berpisah darinya, entah gak tau karena sehati atau apa ketika Vienna mau mengirim sebuah sms kepada Ares eh taunya sms dari Ares yang mampir duluan ke ponselnya.
From : Ares
‘dimana lo? Gue nyari lo di kost Naomi tapi sepi, kost Revin juga’
‘Nah loh ini orang baru juga mau di sms tapi malah udah sms gue duluan, gue bales aja dulu sms ni anak’. Beberapa saat kemudian ponsel Ares bergetar menandakan balasan dari Vienna
From : Vienna
‘gue lagi di rumah, ngapain lo disana? Mereka keluar rame-rame tadi, gak tau kemana’
c d
From : Ares
‘haa? Lo balik? Trus gue gimana dong Vienna?’
c d
From : Vienna
‘elo ke rumah gue aja deh, ada warnet di deket sini yang untungnya aja buka, lo tau rumah gue kan? Dari kompleks kost Revin lo lurus aja ke selatan 500 meteran deh ada komplek disitu, nah trus lo masuk aja’
c d
From : Ares
‘oke, gue kesana’
c d
Tak lama kemudian terlihat Ares dengan motor ninja birunya masuk gerbang kompleksnya Vienna, karena letak warnet yang deket jalan utama kompleks Vienna dapat dengan cepat tahu.
“Reesss....Arreeesss....Woiiii......” teriak Vienna begitu Ares agak dekat sambil melambaikan tangannya, Ares sendiri begitu mengetahui kalo itu tadi Vienna langsung menghampiri tu cewek.
“eh punya gue udah jadi loh” Vienna pamer tugas desainnya ke Ares
“gitu aja bangga, huuu....” cibir Ares
“biarin wleekk...” balas Vienna “eh kertas bufallo gue masih tu diatas etalase warnet pake aja gak papa lagian kan punya lo udah kusut”
Ares membuka laptopnya mengganti format desainnya biar bisa dicetak sesuai kemauan dia, itu juga berdasarkan saran dari pemilik warnet karena si Ares ini ngeyel banget sama rancangannya. Sewaktu Ares membuka hasil desainnya yang ternyata berbentuk sebuah desain undangan pernikahan. Dalam balutan tinta emas yang bersulur tertulis nama Emannuel Ares Exller dan seorang perempuan bernama Lorraine Leonicia Kendrive disatukan dengan tanda LOVE. Vienna merasakan sesak menghimpit dadanya saat ini tak terima ada nama perempuan lain bersanding dengan nama pangeran pujaan hatinya. Masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Vienna nekat bertanya kepada Ares
“itu nama pacar lo ya Res?”
“kalo iya kenapa?” Ares balik tanya sambil memandang wajah Vienna
“gak papa, namanya bagus hehehe” Vienna Cuma bisa nyengir doang “eh gue balik ke rumah dulu ya ntar kalo lo udah selesai sms aja”
“oke”
Secepat kilat Vienna berusaha buat enyah dari hadapan Ares agar cowok itu tidak tau apa yang hatinya rasakan, sakit bagaikan ditusuk ribuan jarum menyerang hatinya, air mata sekarang menetes dengan derasnya setelah dia tahan sedari tadi. Tak bisa disangkanya bahwa akan sesakit ini mengetahui fakta bahwa Ares sudah ada yang memiliki.
‘Res, gue sayang sama elo...gue gak nyangka kalo rasanya bakal sesakit ini,, apa salah gue sampai Tuhan ngasih rasa sakit kayak gini ke gue? Apa gue gak berhak buat mencintai elo setulus hati gue? Apa gue gak pantes buat dapet cinta dari elo? Kenapa Tuhan harus ngelakuin ini ke gue? Kenapa harus gue? Apa belum cukup Tuhan ngasih penyakit ke gue trus sekarang gue harus terima kenyataan kalo sumber semangat hidup gue itu udah ada yang memiliki?’ ucap Vienna lirih disertai derai air matanya
c d
Vienna telah menyelesaikan tahap penyempurnaan tugasnya ketika sms dari Ares masuk, dia telah berusaha bangkit seperti sifatnya yang selalu ceria supaya Ares tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya. Bagi Vienna menyembunyikan keterpurukan adalah hal yang pandai dia lakukan, seperti merahasiakan kondisinya selama ini. Oleh karena itu, dia juga tetap harus bisa ceria untuk menyembunyikan luka hatinya. Dibukanya sms dari Ares itu dengan malas
From : Ares
‘gue udah selesai, lo cepet kesini’
Vienna mengambil kunci motor dengan kasarnya dan melesat menuju ke tempat Ares berada
c d
 “Res buruan deh, udah jam 8 mau setengah sembilan malem nih, keburu tu Pak Guru tidur” kata Vienna saat baru tiba didepan warnet
“iya bentaran deh”
“lo tau rumahnya kan?” tanya Vienna memastikan bahwa Ares emang tau rumah Guru desain itu
“iya gue tau Vienna bawel, Kompleks Blue Diamond 12F, gue udah kesana tadi, udah tanya-tanya sama orang”
“ya udah ayo berangkat, lelet banget lo jadi cowok” ledek Vienna
“sensi banget lo, perasaan tadi biasa aja”
“perasaan lo doang, udah lo aja yang di depan”
Mereka berdua melajukan motornya beriringan menyusuri jalan-jalan di kompleks yang masuk wilayah elite dan terbesar di kota Banyuwangi. Setelah mencari beberapa saat mereka berdua sampai di rumah guru desain itu lalu mengumpulkan tugasnya masing-masing dan bergegas pamit karena malam udah semakin larut. Ares sekarang ganti mengikuti Vienna karena tiba-tiba tu cewek ninggalin dia duluan yah walaupun jaraknya itu gak seberapa tapi tetep aja judulnya Vienna ninggalin dia dulu. Sesampainya didepan rumah Vienna, Ares pamitan
“gue balik Vie”
“hati-hati gak usah ngebut” pesan Vienna, tetapi Ares sudah menghilang dari pandangannya tertelan belokan jalan.
c d
Sembilan hari sudah berlalu semenjak kejadian terakhir antara Ares dan Vienna keliling kota nyari warnet dan percetakaan. Tapi sampai saat ini Vienna belum juga masuk sekolah, Ares yang terakhir bersama Vienna tak luput dari interogasi teman-teman sekolahnya.
“Res, Vienna kemana? Lo beneran ngeliat dia masuk rumah kan? Udah beberapa hari ini dia gak bisa dihubungi” tanya Renna untuk kesekian kalinya
“gue gak tau Ren, waktu gue terakhir ketemu dia itu ya didepan rumah dia, gue juga bingung gak biasanya tu anak ngilang kayak gini”
“gimana kalo kita ke rumahnya? Gue khawatir nih sama dia” ajak Renna
“boleh deh ntar pulang sekolah ajak temen-temen yang mau ikut”
c d
Di rumah Vienna ada keanehan karena gak biasanya rumah itu sepi. Renna, Ares, Revin dan Vando mengetuk pintu rumah Vienna. Lama mereka menunggu pintu itu dibukakan oleh pemiliknya, lalu dengan terburu-buru keluar seorang cowok, Kak Russel kakaknya Vienna membuka pintu rumah untuk tamunya itu, raut wajahnya tampak sayu seolah beban berat baru saja dijatuhkan kepadanya.
“ohh kamu Ren, masuk” Russel mempersilahkan tamunya itu masuk ke rumah
“iya Kak, aku sama temen-temen kesini penasaran sama Vienna kok udah sembilan hari gak masuk itu kenapa?” tanya Renna
Mendengar pertanyaan Renna itu ekspresi wajah Kak Russel semakin keruh perlahan butiran bening air mata jatuh dipipi putihnya
“Vienna...Viennaa...di..dia..udah pergi ninggalin kita semua Ren” isak Kak Russel
“haahh....Kakak bohong kan? Bilang yang Kakak omongin tadi itu gak bener, gak mungkin Vienna ninggalin aku Kak”
“Kakak serius Renna, malem setelah ngumpulin tugas dia drop dan Kakak bawa ke rumah sakit, disana dokter bilang ke Kakak kalo Vienna harus dirawat inap, kondisi Vienna makin hari makin parah sampai akhirnya lima hari yang lalu Vienna terpaksa harus masuk ICU dia koma, dia kritis, dia sekarat Ren...tapi saat itu Kakak masih berharap kalo Vienna bisa sembuh, bisa ketawa dan bercanda lagi bareng kita semua, manusia emang boleh berkehendak, boleh berharap tapi tetap Tuhanlah yang menentukan semuanya, dua hari yang lalu Vienna menutup mata buat selamanya, ninggalin gue...Kakaknya, Mama, Papa dan sahabat-sahabatnya, gue marah sama Tuhan, kenapa harus Vienna yang pergi? Kenapa Tuhan gak nyabut nyawa gue aja sebagai gantinya? Dan kenapa leukimia itu harus bersarang ditubuh adik kesayangan gue? Kenapa?” Kak Russel menceritakan semuanya dengan nada putus asa, kehilangan semangat hidupnya.
Sementara itu, Renna sedari tadi menahan isak tangisnya mendengar cerita Russel, dia tau Vienna sakit, Vienna lemah, dia tau akan hal itu tapi tak pernah membayangkan kalo sahabatnya akan pergi secepat ini. Sama dengan Renna.... Ares, Revin dan Vando mata mereka berkaca-kaca hingga akhirnya jatuhlah tetes demi tetes air bening dari mata mereka merasa kehilangan seorang teman.
“kenapa Kak Russel gak cerita ini ke aku? Ke temen-temen yang lain kalo Vienna udah pergi?” tanya Renna
“bukan Kakak gak mau tapi ini permintaan Vienna, sebelumnya Vienna udah pesen kalo dia pergi cukup pihak sekolah saja yang tau dan tidak boleh ada satu orangpun temannya yang tau, trus dia nitip permintaan maaf ke Vando karena Vienna lupa kalo janji nungguin Vando di warnet deket kostnya Revin dan satu lagi ada titipan dari Vienna buat Renna sama Ares” kata Kak Russel sambil menyerahkan titipan Vienna kepada Renna dan Ares
“eh iya kalo lo mau minta tolong gue nganterin ke makamnya Vienna dengan menyesal gue gak bisa karena Vienna minta kalo dia udah pergi dia mau jasadnya dikremasi dan semua abunya dibuang di Selat Bali” Russel menjelaskan tentang hal yang ingin Renna dkk tanyakan sejak tadi
“gak papa kok Kak, lain waktu kita bisa kesana bareng kan?” hibur Renna
“ya kalo kalian maunya gitu”
“udah Kak kita semua pamit”
“hati-hati kalian semua, doain Vienna ya”
“pasti!!”
c d
Di rumah Renna
Begitu sampai rumah Renna berlari menuju kamarnya, menutupnya rapat-rapat karena sebenarnya dia masih belum mengikhlaskan kepergian sahabat terbaik dalam hidupnya itu, setelah tangisnya mereda dia mengambil sepucuk surat titipan dari Vienna dan dibukanya surat itu...
To : Renna, sahabat kepompong gue ^_^
Biar gue tebak,, hmm,,pasti sekarang lo lagi mewek-mewek gitu deh gara-gara gue tinggal pergi, iya kan?
Udah dong nangisnya, gue udah bahagia disini, karena apa? Disini gue gak ngerasa sakit lagi, disini gue gak perlu bohong lagi, jadi sekarang lo juga gak boleh sedih. Lo harus bangkit dari kesedihan ini, jangan buat gue yang enak disini jadi gak enak gara-gara lo nangis mulu dong.
Hari-hari elo masih panjang, elo harus kuat ngejalanin hidup ini, ada gue ataupun gak ada gue. Gue juga yakin kalo sebenernya elo itu superhero kok, lo pasti gak percaya kan? Gue bisa bilang gitu karena setiap gue ngerasa sakit elo itu bisa jadi pemacu semangat gue biar gak lemah, biar gak menyerah sama keadaan pokoknya elo sahabat the best yang pernah gue punya. Jadi gue mohon, apapun yang terjadi elo adalah Renna Aldiora Kirgizt, seorang cewek tangguh, kuat dan gak bakal mudah goyah dihantam badai (ceilah bahasa gue keren kan Ren?) lo harus semangat menjalani semua ini karena gue Vienna Ariska Rovinz bakal selalu ada buat mendukung elo walaupun di dunia yang berbeda.

Salam Sayang Gue
Vienna Ariska Rovinz

Renna membaca surat itu dengan berbagai ekspresi sesuai kalimat yang tengah dibacanya.
“wooiiii.....Vienna Ariska Rovinz, gue janji gue bakal kuat ngejalanin hidup ini, gue juga berharap semoga lo dapet tempat terbaik disisi Tuhan” teriak Renna dari balkon kamarnya seusai membaca surat dari Vienna
c d
Di rumah Ares
Setelah motor ninjanya dia masukkan ke garasi, Ares berlari menuju kamarnya. Rasa bersalah menyelimuti batinnya. Seandainya saja dia tau kondisi Vienna yang sebenarnya takkan mungkin Vienna bakal menutup mata secepat ini. Seandainya saja waktu bisa di putar, seandainya saja Vienna menceritakan keadaannya yang sebenarnya. Dalam benak Ares makin banyak kata ‘seandainya’ terngiang di fikirannya. Kenapa juga ini terjadi setelah dia dan Vienna keluar berdua malam itu, malam terakhirnya bertemu sosok Vienna. Teringat akan sebuah surat yang diberikan Russel kepadanya, Ares membongkar isi tasnya mencari keberadaan surat tersebut. Dapat! Dibuka dan dibacanya surat itu....

To : Emannuel Ares Exller

Emannuel Ares Exller....entah sejak kapan nama ini terus menerus terngiang dalam hati dan fikiran gue. Kemanapun gue melangkah dan apapun yang gue lakukan gak pernah sedetikpun nama ini terlupakan. Nama itu udah bagaikan nafas buat gue. Orang-orang disekitar gue bilang kalo gue itu sedang jatuh cinta sama pemilik nama itu. Ya gue jatuh cinta...
Rasa bahagia akan cinta itu musnah saat gue tau kalo elo udah ada yang punya. Semangat hidup gue runtuh tepat ketika gue tau kenyataan itu. Mungkin benar kata orang kalo patah hati itu rasanya sakiiittt banget dan sekarang gue ngerasain itu. Elo, Emannuel Ares Exller yang mengajari gue arti jatuh cinta dan patah hati. But, it’s okay...biarkanlah itu berlalu
Sekarang ini gue, Vienna Ariska Rovinz ingin berkata kepada anda Emannuel Ares Exller, jangan lo anggap serius pernyataan gue diatas tadi, itu emang nyata tapi sekarang udah gak ada apa-apanya karena lo udah tau kan? Kalo gue udah gak lagi bernafas bareng elo, gue udah pergi jauh ke alam keabadian. Dalam hati gue dengan tulus berharap kalo kebahagiaan bisa selalu menghiasi hidup elo, menciptakan senyum terindah yang elo punya, senyum yang diam-diam selalu gue simpen rapi di dalam memori gue.
Hidup terus berjalan Res, gue gak mau kalo di hati kecil elo masih merasa bersalah sama kepergian gue. Elo gak salah dan gak akan pernah salah tentang hal itu. Ini emang takdir gue Res, dimana waktu gue bernafas di dunia ini udah habis karena, Tuhan mengirimkan penyakit leukimia ini untuk mengakhiri hidup gue, hidup yang penuh kesakitan dalam diam yang mungkin hanya diketahui oleh segelintir makhlukNya.
Gue minta maaf sama elo seumpama gue punya salah, jangan nyimpen dendam sama gue karena itu sia-sia :P Gue berharap di kehidupan abadi gue masih bisa ketemu elo lagi, jadi temen elo lagi tapi gue ogah jadi orang yang mencintai elo lagi (sakit hati mulu gue ^_^). Jaga diri baik-baik, gue udah gak bisa ngingetin elo lagi sekarang. Akhir kata...gue sayang sama elo Res, sampai kapanpun gue bakal tetep sayang sama elo dan sampai jumpa di keabadian. J

With love,
Vienna Ariska Rovinz

“Vienna...Vienna...lo temen terbaik yang gue punya, maaf kalo selama ini gue gak peka tentang perasaan elo ke gue, seandainya waktu bisa diputar lagi bukan nama Lorraine Leonicia Kendrive yang ada di hidup gue tapi nama elo Vienna Ariska Rovinz, gue juga sayang sama elo Vie...” kata Ares setelah membaca surat dari Vienna “Tuhan mohon kabulkan doa hambaMu yang lemah ini, berikan tempat terindah disisimu untuk gadis bernama Vienna Ariska Rovinz dan jadikan dia dalam golongan orang-orang yang Engkau kasihi seperti aku mengasihinya, Aamiin”
c d
Pagi telah berlalu
Dan senja juga menghilang
Awan kelabu masih berselimut tipis
Menggantung diatas cakrawala sang langit
Ikut bersedih akan kepergian
Seorang gadis manis ke rumah Tuhannya....
Vienna memang telah pergi meninggalkan dunia tetapi kenangan hidupnya akan tetap tersimpan dan hidup dalam memori orang-orang yang menyayanginya.
“Buat kalian semua sahabatku, aku sayang kalian semua, aku mau kalian di dunia sana bahagia seperti aku disini yang juga sudah bahagia dan juga aku berharap kalian akan selalu ingat hal ini bahwa ‘aku kamu akan selalu bersama selamanya’ ”